Setelah meromantisasi pernikahan dini dengan branding pernikahan dini dengan seorang yang berusia jauh lebih tua darinya. Tak hanya romantisasi pernikahan dini, pasangan perempuan yang menikah muda ini juga menyatakan bahwa kuliah itu scam.
Pernyataan kontroversialnya menumbuhkan berbagai komentar kontra, menentang untuk menyetujui pernyataan tersebut. Bahkan seorang dosen yang aktif membuat video di TikTok ikut berkomentar dengan sudut pandangnya sebagai dosen.
Dosen yang dikenal dengan nama Ira Mirawati ini menentang pernyataan bahwa Gen Z dininabobokan oleh zaman yang ditangkap dalam konteks pendidikan. Ira menyatakan jika saat ini kebanyakan Gen Z yang masih kuliah itu sedang menjalani skripsi atau praktikum.
โEh, boro-boro dinina-bobokan. Bisa tidur tanpa mimpi buruk ya mereka udah alhamdulillah,โ ucapnya menyangkal bahwa Gen Z yang dianggap di-nina bobo-kan karena banyak bersantai ini justru ikut memiliki permasalahan mereka sendiri di bangku kuliah.
Menanggapi pernyataan pendidikan (kuliah) itu scam, Ira menjelaskan mengenai bagaimana kurikulum dibuat yang tidak bisa asal-asalan. Kurikulum dibuat dengan menghadirkan pakar-pakar baik dalam dan luar negeri serta survey kepada mahasiswa itu sendiri untuk melihat keberlanjutan perkuliahan yang diterima oleh mahasiswa ini.
Sejalan dengan pernyataan yang sempat dilontarkan oleh penulis novel lulusan Universitas Indonesia, J.S Khairen yang memilih jalan tengah dengan mengatakan bahwa kuliah itu menjadi scam atau tidak, menjadi sulit disimpulkan secara general.
โSaat seseorang lulus, lalu ilmu dan relasinya berguna sedikit banyak. Apa masih scam? Ya jelas tidak,โ tulis Khairen dalam unggahannya pada Rabu, 7 Januari 2026.
Pernyataan yang dilontarkan penulis novel serial โKami (Bukan) Sarjana Kertasโ ini sejalan dengan pernyataan Ira yang berfokus pada hasil dari pembuatan kurikulum yang mengharapkan keberlanjutan ilmu setelah seorang mahasiswa lulus dari perkuliahan.
Dalam video yang diunggah Ira tersebut ada yang membagikan kisahnya saat masih menjadi mahasiswa yang sedang melakukan skripsi.
โPengen marah gara-gara ini dari kemaren-kemaren, padahal skripsiku yang hasil nego sama dosen karena kondisi kesehatan mentalku waktu itu akhirnya masuk jurnal terindeks SINTA. Bahkan cuma ada satu (yang) sitasi aja kek udah bangga banget, dan artikel yang men-sitasi juga masuk jurnal pengabdian,โ tulis akun @sanjuunana3_7 dalam akun tersebut.
Sebagai informasi, SINTA (Science and Technology Index) merupakan platform digital dari Kementerian Pendidikan Budaya Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang mengindeks, menilai, dan memberikan peringkat kinerja sebuah jurnal ilmiah di Indonesia berdasarkan kualitas publikasi (isi artikel atau jurnal ilmiah) dan sitasinya (referensi untuk menyusun sebuah artikel ilmiah).
Terdaftar dan masuk ke dalam jurnal dengan menyematkan gelar SINTA ini bukanlah perkara mudah, tapi prosesnya menuntut standar riset dengan isi yang tepat, kuat dan tepat guna yang tentu saja tidak sederhana.
Pencapaian yang dirasakan dari pemilik akun @sanjuunana3_7 ini seolah membuktikan bahwa di balik tudingan scam ada begitu tinggi terdapat proses intelektualitas yang hasilnya diakui secara nasional.
Pendidikan tinggi memang tidak selalu menghasilkan kesuksesan yang dibayangkan banyak orang. Akan tetapi, penempuh pendidikan tinggi yang sebenar-benarnya menjalani perkuliahan mampu membuktikan intelektualitas yang ditempa di bangku perkuliahan mampu memberikan kontribusi pada masyarakat umum meskipun hanya sedikit.
Label scam hadir karena adanya ekspektasi hasil setelah kuliah yaitu saat lulus akan langsung dapat kerja dan gaji yang tinggi. Kenyataan yang ditunjukan dari fungsi indeks SINTA dengan kebanggaan seorang mahasiswa dengan satu artikel terindeks SINTA menunjukkan bahwa kuliah bukan jalan pintas tapi sebuah wadah penempa untuk memaksimalkan intelektualitas pemikiran generasi muda yang disiapkan untuk terjun ke masyarakat.
Wujud dari kebanggaan mendapat indeks SINTA ini justru tidak sejalan dengan pernyataan Gen Z di-nina bobo-kan. Gen Z yang menempuh pendidikan tinggi justru sedang ditempa hebat dengan segala kegiatan perkuliahannya.
Materi kuliah bisa dicari di internet dengan sangat mudah, tapi kuliah memiliki kurikulum yang sangat dikurasi dan disesuaikan oleh pakar untuk mahasiswa. Kurikulum ini sebagai penunjuk jalan bukan hanya sekedar formalitas, sehingga ilmu di internet akan dipelajari sesuai alur dan jalurnya.







