Pernah nggak sih kalian kepikiran, kalau sejarah Jawa itu sebenarnya bukan cuma soal tumpukan tanggal di buku pelajaran? Kalau kita mau tarik napas sedikit lebih dalam, sejarah kita ini adalah satu rangkaian panjang “drama keluarga” yang isinya ambisi, balas dendam, sampai urusan asmara yang ujung-ujungnya mengubah peta kekuasaan.
Dari sebuah keris berdarah di abad ke-13, eh, tahu-tahu akarnya masih menyambung sampai ke megahnya Kesultanan Yogyakarta hari ini. Ini gila banget sih kalau dipikir-pikir.
Semuanya bermula dari sebuah tempat bernama Tumapel. Bayangkan saja, tanpa seorang pemuda bernama Ken Arok yang nekatnya minta ampun, mungkin kita nggak akan pernah punya narasi soal Majapahit, apalagi Mataram.
Tragedi di Tumapel
Awal abad ke-13 itu adalah masa yang liar. Ada seorang Akuwu (mungkin sekarang setingkat bupati) bernama Tunggul Ametung. Dia ini sosok yang kuat, tapi punya satu kesalahan fatal: dia menculik Ken Dedes, putri seorang pendeta, buat dijadikan istri paksa.
Nah, di sinilah Ken Arok muncul. Arok ini bukan pangeran berkuda putih, dia pemuda jalanan yang punya latar belakang kelam, tapi ambisinya setinggi langit. Ada cerita legendaris yang bilang kalau Arok melihat “betis yang bersinar” dari balik kain Ken Dedes yang tersingkap.
Menurut ramalan, itu pertanda kalau Dedes adalah Nareswariโwanita yang bakal melahirkan raja-raja besar. Di situlah Arok merasa punya “mandat langit” buat merebut Dedes sekaligus kekuasaan Tumapel. Masalahnya, jalannya nggak bersih.
Dia memesan keris sakti ke Mpu Gandring, tapi karena nggak sabaran, dia malah membunuh si pembuat keris itu. Mpu Gandring yang sekarat melempar kutukan: keris itu bakal memakan nyawa tujuh turunan bangsawan, termasuk si Arok sendiri. Dan benar saja, drama Singasari pun dimulai dengan pertumpahan darah yang nggak habis-habis.
Dari Singasari Melompat ke Majapahit
Setelah Ken Arok sukses mengalahkan Raja Kediri, Kertajaya, di pertempuran Ganter tahun 1222, dia mendirikan Singasari. Inilah awal mula Wangsa Rajasa. Garis keturunan ini bukan main-main keberuntungannya, meski selalu dibayangi kutukan. Singasari mencapai puncaknya di bawah Kertanegara, tapi sayangnya harus hancur gara-gara pemberontakan Jayakatwang.
Tapi ingat, darah Ken Arok itu nggak gampang menyerah. Menantu Kertanegara, Raden Wijaya, berhasil meloloskan diri. Dengan kecerdikan yang luar biasa, dia memanfaatkan tentara Mongol buat menghancurkan musuhnya, lalu balik mengusir tentara Mongol itu.
Tahun 1293, Majapahit berdiri. Ini adalah puncak dari kejayaan Nusantara yang visinya sebenarnya sudah dimulai sejak di Singasari. Majapahit menyatukan kita dari ujung ke ujung, sebelum akhirnya perlahan melemah karena perang saudara dan masuknya pengaruh Islam yang membawa angin perubahan baru.
Kebangkitan Mataram
Waktu Majapahit runtuh, kekuasaan memang sempat bergeser ke Demak dan Pajang. Tapi tunggu dulu, ruh kekuasaan Jawa itu nggak pernah benar-benar pergi jauh. Di akhir abad ke-16, muncul sosok Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati. Dia mendirikan Kesultanan Mataram.
Menariknya, meskipun Mataram ini kerajaannya bercorak Islam, mereka tetap merasa perlu mengklaim kalau mereka adalah pewaris sah dari kebesaran Majapahit dan Singasari. Mereka masih merasa satu “darah” dengan Ken Arok.
Mataram pun mencapai masa keemasannya di bawah Sultan Agung. Dia adalah penguasa yang punya visi menyatukan seluruh Jawa di bawah satu komando, mirip banget sama semangat pendahulunya dulu.
Perjanjian Giyanti
Sayangnya, sejarah selalu punya sisi gelap bernama perpecahan. Masuknya VOC (Belanda) dan konflik internal di dalam keluarga kerajaan bikin Mataram nggak stabil. Puncaknya adalah 13 Februari 1755, lewat sebuah kesepakatan pahit bernama Perjanjian Giyanti. Imperium Mataram resmi dibelah jadi dua.
Kasunanan Surakarta dipimpin oleh Pakubuwono III, dan Kesultanan Yogyakarta dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi yang kita kenal sebagai Sri Sultan Hamengkubuwono I. Sampai detik ini, Yogyakarta masih berdiri tegak dengan status Daerah Istimewa.
Ini adalah bukti hidup kalau kesinambungan sejarah Jawa itu nyata. Kalau kita berdiri di depan Keraton Jogja hari ini, sadar nggak sih kalau benang merahnya bisa ditarik jauh banget sampai ke aksi nekat Ken Arok di Tumapel dulu?
Mempelajari ini bikin kita sadar kalau kekuasaan itu berputar. Ada masa di mana keris menentukan segalanya, ada masa di mana diplomasi di meja perjanjian (seperti Giyanti) yang jadi penentu. Tapi satu yang pasti, integritas dan ambisi adalah dua hal yang nggak pernah berubah dari zaman Singasari sampai sekarang. Sejarah ini penuh dengan intrik politik yang jauh lebih seru daripada film fiksi mana pun!







